Sabtu, 29 Desember 2012



BAB I PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
     Radiografi Thorax merupakan pemeriksaan yang paling umum didapati dalam bidang radiologi. Pembahasan dan pendalaman mengenai radiografi Thorax sangatlah perlu guna mengetahui kelainan-kelainan dan patologi-patologi yang terdapat pada Thorax. Oleh karena itu untuk dapat mengetahui hal tersebut, maka terlebih dahulu perlu dimiliki pengetahuan tentang teknik pemeriksaan Thorax yang baik dan kajian mengenai patologi Thorax.

B.   Maksud dan Tujuan
a.      Mahasiswa dapat memperdalam pemahamannya mengenai prinsip-prinsip dasar serta teknik pemeriksaan Thorax yang baik dan benar
b.     Mahasiswa dapat memperdalam pengetahuan mengenai patologi-patologi Thorax
C.     Manfaat
a.      Agar mahasiswa dapat memperdalam pemahamannya mengenai prinsip-prinsip dasar serta teknik pemeriksaan thorax yang baik dan benar
b.     Agar mahasiswa dapat memperdalam pengetahuan mengenai patologi-patologi thorax

BAB II KAJIAN TEORI

A.  Anatomi Fisiologi Thorax


Thorax.png












Heart.png



                                                                             



Vena Pulmonalis Dexter & Sinister
 

Arteri Pulmonalis Dexter  





Ventrikel Sinister
 


Ventrikel Dexter
 


Atrium Dexter
 


Aorta
 
                                                                                                                                                                                                     







Vena Cava Superior
 

Vena Cava Inferior
 

      Pada garis tengah dibagian anterior terletak sternum yang terdiri dari 3 bagian, manubrium, korpus, dan prosesus xiphoideus. Titik paling atas sternum dikenal sebagai sternal notch atau insisura jugularis, yang tampak berupa lekukan antara kedua kaput klavikula. Insisura ini setinggi batas bawah dari vertebra torakal ke-2.
      Angulus ludovici adalah tonjolan yang terjadi oleh karena pertemuan bagian korpus dan manubrium sterni yang membentuk sudut. Sudut ini tampak nyata pada orang yang kurus. Angulus ludovici adalah penanda anatomi permukaan oleh karena terletak setinggi iga ke-2 dan vertebra torakal 4-5. Setinggi angulus ini terdapat organ-organ penting: arkus aorta dan karina.
      Bagian terakhir sternum adalah processus xiphoideus yang dapat diraba sebagai ujung bawah yang lunak dari sternum; kira-kira setinggi vertebra torakal 9.
      Lateral terhadap sternal terdapat iga dan sela iga yang dapat dibedakan dan dihitung melalui palpasi. Hampir seluruh iga tertutup oleh otot, tetapi hanya iga I yang tidak dapat teraba oleh karena tertutup oleh klavikula.
      Batas bawah rongga iga di sebelah anterior dibentuk oleh processus xiphoideus, rawan kartilago dari iga VII-X, dan ujung kartilago dari iga XI-XII.
      Rangka thorax terluas adalah iga-iga (costae) yang merupakan tulang jenis osseokartilaginosa. Memiliki penampang berbentuk konus, dengan diameter penampang yang lebih kecil pada iga teratas dan makin melebar di iga sebelah bawah. Di bagian posterior lebih petak dan makin ke anterior penampang lebih memipih.
      Terdapat 12 pasang iga : 7 iga pertama melekat pada vertebra yang bersesuaian, dan di sebelah anterior ke sternum. Iga VIII-X merupakan iga palsu (false rib) yang melekat di anterior ke rawan kartilago iga diatasnya, dan 2 iga terakhir merupakan iga yang melayang karena tidak berartikulasi di sebelah anterior.
      Setiap iga terdiri dari caput (head), collum (neck), dan corpus (shaft). Dan memiliki 2 ujung : permukaan artikulasi vertebral dan sternal.
      Bagian posterior iga kasar dan terdapat foramen-foramen kecil. Sedangkan bagian anterior lebih rata dan halus. Tepi superior iga terdapat krista kasar tempat melekatnya ligamentum costotransversus anterior, sedangkan tepi inferior lebih bulat dan halus.
      Pada daerah pertemuan collum dan corpus di bagian posterior iga terdapat tuberculum. Tuberculum terbagi menjadi bagian artikulasi dan non artikulasi.
      Penampang corpus costae adalah tipis dan rata dengan 2 permukaan (eksternal dan internal), serta 2 tepi (superior dan inferior). Permukaan eksternal cembung (convex) dan halus; permukaan internal cekung (concave) dengan sudut mengarah ke superior.
      Diantara batas inferior dan permukaan internal terdapat costal groove, tempat berjalannya arteri-vena-nervus interkostal.
      Iga pertama merupakan iga yang penting oleh karena menjadi tempat melintasnya plexus brachialis, arteri dan vena subklavia. M.scalenus anterior melekat di bagian anterior permukaan internal iga I (tuberculum scalenus), dan merupakan pemisah antara plexus brachialis di sebelah lateral dan avn subklavia di sebelah medial dari otot tersebut.
      Sela iga ada 11 (sela iga ke 12 tidak ada) dan terisi oleh m. intercostalis externus dan internus. Lebih dalam dari m. intercostalis internusterd apat fascia transversalis, dan kemudian pleura parietalis dan rongga pleura. Pembuluh darah dan vena di bagian dorsal berjalan di tengah sela iga (lokasi untuk melakukan anesteri blok), kemudian ke anterior makin tertutup oleh iga. Di cekungan iga ini berjalan berurutan dari atas ke bawah vena, arteri dan syaraf (VAN). Mulai garis aksilaris anterior pembuluh darah dan syaraf bercabang dua dan berjalan di bawah dan di atas iga. Di anterior garis ini kemungkinan cedera pembuluh interkostalis meningkat pada tindakan pemasangan WSD.
      Vertebra torakalis pertama (T 1)mempunyai satu persendian yang lengkap dengan iga I dan setengah persendian dengan iga II. Selanjutnya T2-T8 mempunyai dua persendian, di atas dan di bawah korpus vertebra (untuk iga II sampai dengan VIII). Sedang dari T9-T12 hanya mempunyai satu persendian dengan iga. Semua ini penting untuk melepaskan iga dari korpus vertebra pada waktu melakukan torakotomi.
      Ligamentum longitudinalis anterior; di depan ligamentum ini terdapat suatu ruangan (space) dengan susunan jaringan ikat yang longgar dan  merupakan "jalan" untuk descending infection dari daerah leher menuju  mediastinum.

B.   Patologi
      Penyakit-penyakit pernafasan diklasifikasikan berdasarkan etiologi, letak anatomis, sifat kronik penyakit serta perubahan-perubahan strukstur dan fungsi. Pada kasus-kasus tertentu penyebab etiologisnya tak diketahui, sedangkan pada kasus-kasus lain penyebab yang sama dapat menyerang lokasi anatomi yang berebeda dan menimbulkan akibat patofisiologis yang berbeda pula. Penyakit-penyakit pernafasan dapat menimbulkan tanda serta gejala umum maupun pernafasan. Yang termasuk tanda dan gejala pernafasan adalah sebagai berikut :
1.     Batuk
Batuk merupakan suatu reflex protektif yang timbul akibat iritasi percabangan trakesbronkial. Kemampuan untuk batuk merupakan mekanisme yang penting untuk membersihkan saluran nafas bagian bawah. Kebanyakan orang dewasa normal beberapa kali setelah bangun pada pagi hari untuk membersihakan trakea dan faring dari sekret yang terkumpul selama mereka tidur. Batuk juga merupakan gejala yang paling umum dari penyakit pernafasan. Segala jenis batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu harus diselidiki untuk mengetahui penyebabnya.
2.     Sputum
Orang dewasa normal membentuk mukus sekitar 100 ml dalam saluran nafas tiap hari. Mukus ini diangkut menuju faring oleh pembersihan normal dari silia yang membatasi saluran pernafasan. Kalau terbentuk mukus yang berlebihan, maka proses normal pembersihan mungkin tidak efektif lagi, sehingga akhirnya mukus tertimbun. Bila hal ini terjadi, maka membran mukosa terangsang dan mukus ini dibatukkan keluar sebagai sputum. Pembentukan mukus yang berlebihan, mungkin disebabkan oleh gangguan kimiawi atau infeksi pada membran mukosa.
3.     Hemoptisis
Sputum dapat bercampur dengan darah atau dapat juga secara keseluruhan cairan yang dikeluarkan dari paru-paru berupa darah. Hemoptisis adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan batuk darah atau sputum yang berdarah. Setiap proses yang merusak kesinambungan pembuluh darah paru-paru dapat mengakibatkan pendarahan. Batuk darah merupakan suatu gejala yang serius dan dapat merupakan manifestasi pertama dari TB paru.
4.     Dispnea
Dispnea atau sesak nafas adalah perasaan sulit bernafas dan merupakan gejala utama dari penyakit kardiopulmonar. Seorang yang mengalami dispnea sering mengeluh nafasnya menjadi pendek atau merasa tercekik. Dispnea tidak selalu menunjukkan adanya penyakit. Orang normal dapat pula mengalami dispnea karena melakukan kegiatan fiisik dalam tingkat-tingkat berbeda. Dispnea merupakan gejala yang paling nyata pada penyakit yang menyerang percabangan trakeabronkial, parenkim paru-paru dan rongga pleura. Dispnea biasanya dikaitkan dengan penyakit paru-paru dimana terdapat peningkatan kerja pernafasan akibat meningkatnya resistensi elastik paru-paru, dinding dada atau meningkatnya resitensi non-elastik bronkial.
5.     Nyeri dada
Ada berbagai penyebab nyeri dada, tetapi yang paling khas dari penyakit paru-paru adalah akibat radang pleura (pleuritis). Hanya lapisan parietalis pleura saja yang merupakan sumber nyeri oleh karena pleura viseralis dan parenkim paru-paru dianggap sebagai organ yang tidak peka. Umumnya pleuritis terjadi mendadak, tapi dapat juga timbul secara bertahap. Nyeri terjadi pada tempat perdangan dan biasanya tempat peradangan dapat diketahui dengan tepat. Nyeri itu bagaikan teriris-iris dan tajam, diperberat dengan batuk , bersin dan nafas yang dalam, sehingga penderita seringkali bernapas dangkal dan menghindari pergerakan yang tak diperlukan. Nyeri dapat sedikit diredakan dengan menekan daerah yang sakit.







BAB III HASIL PEMERIKSAAN
A.  Data Pasien
-         Nama              : Djusaldiani
-         Umur               : 43 tahun
-         Jenis kelamin  : Perempuan
-         Tanggal Foto  : 2 Maret 2011
-         Nomor Foto    : Rö / 784
-         Klinis              : Batuk Lama

B.   Alat Dan Bahan
1.      High-Voltage GENERATOR for Madical X-Ray System
a. Merek          = HITACHI
b. Type            = P - C - 125AB
c. MAINS
PHASE
FREQUEN.
VOLTAGE
INPUT
1
50/60 Hz
220 V
53 kVA
d. RATING
SHORT TIME
LONG TIME
125 kV
100 kV
100 kV
300 mA
500 mA
4 mA

e. Nomor         = KC17066606
f. Date             = Agustus 1986
2. Variable X-Ray Beam Limiting Device
a. Merek                      = HITACHI
b. Type                        = ZU - L3TI
c. Filtration                 = 1,2 mmAℓ
d. Max.Tube Voltage = 150 kV
e. Nomor                     = KC17343604
f. Date                         = Agustus 1986
d. MAINS
PHASE
FREQUEN.
VOLTAGE
INPUT
1
50/60 Hz
100 V
84 VA
3. Kaset                                   = 35 x 35, dengan green emiting screen
4. Film                                    = 35 x 35, Fuji Film, green sensitive
5. Marker
6. Chest Stand

C.   Persiapan Pasien
Untuk mendapatkan hasil radiografi yang baik, maka pasien perlu melakukan persiapan sebagai berikut :
1.      Melepas baju, perhiasan dan semua yang dapat menutupi lapangan gambaran thorax
2.      Memakai pakaian ganti yang telah disiapkan
3.      Apabila rambut pasien menutupi lapangan gambaran thorax, maka harus disanggul
4.      Menjelaskan kepada pasien bahwa pada saat ekposi perlu menarik dan menahan nafas

D.  Teknik Pemeriksaan
Teknik Pemeriksaan Thorax PA
Posisi Pasien         : Pasien Erect PA
Posisi Objek                     :   -     Tempatkan pasien menempel pada kaset
-         Batas atas kaset 2 inci dari bahu
-         Pasien diatur true PA dalam keadaan simetris kiri dan kanan
-         Pusatkan MSP tubuh ditengah garis kaset
-         Letakkan bagian dorsal Ossa Manus pada Crista Illiaca
-         Dagu ekstensio dan diletakkan di puncak kaset
-         Elbow joint didorong kedepan agar Os Scapula tidak overlap dengan lapangan paru
-         Bahu diatur sama tinggi pada bidang transversal
FFD                                   : 150 cm
CR                         : Tegak lurus bidang film
CP                         : Selevel Axilla
Faktor Eksposi      :   -      kV        : 46
-         mA         : 150
-         s             : 0,05
-         mAs       : 7,5

E.      Hasil Foto Radiografi














F.   Hasil Pemeriksaan
Hasil         : -      Tampak bercak berawan pada lapangan atas kedua paru
-         Cor  membesar dengan CTI > 50%
-         Sinus dan diafragma baik
Kesan        : -      KP Duplex Aktif
-         Cardiomegaly
Dokter       :        Dr. Rahmayanti Arief, Sp.Rad



G.  Pembahasan Kasus
1.     KP Duplex Aktif
1.     Definisi
KP Duplex aktif adalah gambaran radiologis pada penderita tuberculosis paru yang pernah menderita tuberculosis paru sebelumnya (penderita kambuh) yang mengenai kedua lapang paru.
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis, yaitu bakteri tahan asam yang ditularkan melalui udara yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi.
Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus limfe. Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun.

2.     Tanda Dalam Tubuh
a.      Penurunan berat badan
b.     Anoreksia
c.      Dispnea
d.     Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning

3.     Gejala Dalam Tubuh
a. Demam = Biasanya menyerupai demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita dengan berat-ringannya infeksi kuman TBC yang masuk
b. Batuk = Terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk kering kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk produktif (menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada ulkus dinding bronkus
c. Sesak nafas = Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru
d. Nyeri dada = Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan pleuritis)
e. Malaise = Dapat berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan turun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam
4.     Penanganan TB Paru
a. Promotif
1. Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC
2. Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan, cara
    pencegahan, faktor resiko
3. Mensosialisasiklan BCG di masyarakat
b. Preventif
1. Vaksinasi BCG
2. Menggunakan isoniazid (INH)
3. Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab
4. Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara dini
c. Kuratif
Pengobatan tuberkulosis terutama pada pemberian obat antimikroba dalam jangka waktu yang lama. Obat-obat dapat juga digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit klinis pada seseorang yang sudah terjangkit infeksi. Penderita tuberkulosis dengan gejala klinis harus mendapat minuman dua obat untuk mencegah timbulnya strain yang resisten terhadap obat. Kombinasi obat-obat pilihan adalah isoniazid (hidrazid asam isonikkotinat = INH) dengan etambutol (EMB) atau rifamsipin (RIF).
Dosis lazim INH untuk orang dewasa biasanya 5-10 mg/kg atau sekitar 300 mg/hari, EMB, 25 mg/kg selama 60 hari, kemudian 15 mg/kg, RIF 600 mg sekali sehari. Efek samping etambutol adalah Neuritis retrobulbar disertai penurunan ketajaman penglihatan. Uji ketajaman penglihatan dianjurkan setiap bulan agar keadaan tersebut dapat diketahui.
Efek samping INH yang berat jarang terjadi. Komplikasi yang paling berat adalah hepatitis. Resiko hepatitis sangat rendah pada penderita dibawah usia 20 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 60 tahun keatas. Disfungsi hati, seperti terbukti dengan peningkatan aktivitas serum aminotransferase, ditemukan pada 10-20% yang mendapat INH. Waktu minimal terapi kombinasi 18 bulan sesudah konversi biakan sputum menjadi negatif. Sesudah itu masuk harus dianjurkan terapi dengan INH saja selama satu tahun.
Baru-baru ini CDC dan American Thoracis Societty (ATS) mengeluarkan pernyataan mengenai rekomendasi kemoterapi jangka pendek bagi penderita tuberkulosis dengan riwayat tuberkulosis paru pengobatan 6 atau 9 bulan berkaitan dengan resimen yang terdiri dari INH dan RIF (tanpa atau dengan obat-obat lainnya), dan hanya diberikan pada pasien tuberkulosis paru tanpa komplikasi, misalnya : pasien tanpa penyakit lain seperti diabetes, silikosis atau kanker didiagnosis TBC setelah batuk darah, padahal mengalami batu dan mengeluarkan keringat malam sekitar 3 minggu.

2.     Cardiomegaly
1.     Definisi
      Cardiomegaly adalah kondisi dimana jantung mengalami pembesaran. Pembesaran jantung dapat diakibatkan oleh tekanan darah tinggi, kelainan kerja katup jantung, cardiomyopathy, anemia berat, kelainan kelenjar Thyroid, hemochromatosis, dan amyloidosis. Cardiomegaly dapat menimbulkan komplikasi berbahaya seperti gagal Jantung, dan terbentuknya bekuan darah di jantung yg dapat mengakibatkan serangan jantung dan stroke.

2.     Tanda Dalam Tubuh
a.      Kesulitan bernafas
b.     Nafas pendek
c.      Pusing dan pening
d.     Detak jantung abnormal
e.      Batuk-batuk


3.     Gejala Dalam Tubuh
a.      Hypertensi : Hypertensi menyebabkan jantung memompa darah lebih cepat ke seluruh tubuh, sehingga otot jantung membesar
b.     Cardiomyopathy : Adalah kondisi dimana otot jantung mengalami penebalan dan pengerasan
c.      Anemia : Jika mengalami anemia, maka tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh, maka jantung akan memompa darah lebih cepat untuk memenuhi kekurangan oksigen, yang mengakibatkan otot jantung membesar
d.     Hemochromatosis : kondisi dimana tubuh tidak dapat menggunakan zat besi dengan benar, yang menyebabkan zat besi menumpuk di berbagai organ, termasuk otot jantung. Hal ini dapat menyebabkan perbesaran Ventrikel Sinister disebabkan karena otot jantung yang melemah
e.      Amyloidosis : Kondisi dimana protein abnormal bersirkulasi dalam darah dan mungkin menumpuk di jantung, yang akan mengganggu fungsi jantung dan dapat menyebabkannya membesar

4.     Penanganan Cardiomegaly
      Penanganan Cardiomegaly adalah dengan menggunakan obat-obatan yang menurunkan kadar sodium dan air dalam tubuh seperti Furosemide(Lasix) atau Spironolactone(Aldactone) yang dapat membantu mengurangi tekanan dalam arteri dan jantung, sehingga detak jantung bisa normal kembali dan kemudian otot jantung akan dapat bekerja sebagaimana seharusnya.
      Jika menggunakan obat tidak berhasil, maka prosedur medis atau operasi harus dilakukan, yaitu:
-         ICD
Implantable Cardioverter – Defibrillator, yaitu alat untuk meregulasi detak jantung yang ditanam di dalam dada yang akan memonitor detak jantung dan akan memberikan kejutan listrik jika ada detak jantung cepat yang abnormal.


-         Operasi Katup Jantung
Dilakukan jika ada salah satu katup jantung yang mengalami penyempitan, katup jantung akan diganti dengan katup buatan.
-         Cangkok Jantung
Jika cara yang lain tidak bisa menyembuhkan, maka cangkok jantung adalah cara terakhir yang mungkin dilakukan untuk penyembuhan.   
























BAB IV PENUTUP

A.  Kesimpulan

Untuk menilai kelainan patologi Thorax, gambaran radiografi sangatlah membantu, karena patologi tidak bisa diketahui hanya dengan melihat gejala-gejala dari luar yang kasat mata. Dari hal tersebut saya dapat menarik kesimpulan :
-    Radiografi Thorax sangat membantu untuk menegakkan diagnosa terhadap penyakit-penyakit seperti Cardiomegaly, Tuberculosis (Koch Pulmonal), dan lain-lain.
-    Untuk mendapatkan ukuran jantung yang mendekati kebenaran, maka foto sebaiknya diambil dengan posisi PA, agar penilaian Cardiomegaly mudah dilakukan.

B.   Saran

Guna memaksimalkan pemeriksaan Thorax, ada beberapa saran yang saya dapat kemukakan, yaitu sebagai berikut  :
1.     Pada teknik pemeriksaan Thorax harusnya menerapkan syarat-syarat foto Thorax yang baik jika memungkinkan, guna mendapatkan radiografi yang tidak hanya sekedar untuk dibaca, namun radiografi yang menegakkan diagnosis yang baik.
2.     Kolimasi harus dibatasi agar pasien tidak perlu menerima radiasi yang sia-sia, tetapi jangan sampai salah satu sisi terpotong.
3.     Radiografer atau mahasiswa perlu berhati-hati dalam pemasangan marker, baik posisi maupun letak marker, karena jika sampai marker terbalik atau posisi tidak pas maka hasil radiografi bisa salah dinilai, atau marker dapat menutupi gambaran Thorax.
4.     Komunikasi yang baik dengan pasien sangatlah penting, agar pasien memahami mengapa perlu melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh radiografer. 



DAFTAR PUSTAKA














LAMPIRAN


Foto-0076.jpgPasien.jpg
Text Box: Kamar GelapText Box: EksposiText Box: Pengaturan Control TableText Box: Pengaturan TabungText Box: Pemosisian PasienFoto-0088.jpgFoto-0086.jpgFoto-0085.jpg













BIODATA

Nama                                        : sulhaerdi
Tempat / Tanggal Lahir : bulukumba, 28 april 1992
Alamat Rumah               : Jl. tanjung menanggis, bulukumba, sul-sel
Alamat Sekarang           : Jl. ranggo dg romo no 21, Makassar, Sulsel
Agama                            : Islam
Status                                        : Pelajar / Mahasiswa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar